Putri Yusril Ihza Mahendra Bicara Soal Persija dan Usia Dini

Putri Yusril Ihza Mahendra Bicara Soal Persija dan Usia Dini
Credit : Foto - Istimewa
profil foto
  • ocim -
  • 30 Mar 2019 08:05:00 -
  • 590 views

JANGAN sekali-kali melupakan sejarah. Itulah kalimat yang tepat untuk memikirkan Jama Sandon. Mungkin nama itu masih terdengar asing di telinga pencinta sepak bola Indonesia. Padahal bicara nukilan sejarah, ia adalah penggawa Timnas Hindia-Belanda tahun 1922.

Terlahir dari keturunan Persia dan Iran, siapa sangka Jama Sandon adalah kakek dari pakar hukum tata negara, Yusril Ihza Mahendra. Sekilas, kenangan manis pun muncul dari pria asal Belitung Timur tersebut.

Seperti yang diutarakan oleh putri Yusril, Kenia Khairunnisa. Sepak terjang Jama Sandon adalah cerita turun temurun yang terus berbekas buat dirinya.

"Beliau adalah kapten kesebelasan sepak bola Bangka Billiton. Sering bermain di tingkat nasional di Batavia bahkan sampai ke Malaysia dan Singapura," ujar Kenia.

"Buyut kami sampai tua selalu nonton sepak bola dan tak mau ketinggalan jadi komentator. Ayah juga cerita, beliau pernah minta dibelikan televisi berwarna tahun 1980-an karena layar hitam putih menyulitkannya membedakan kesebelasan yang sedang bertanding," sambung perempuan berusia 33 tahun itu seraya tersenyum.

Cerita turun temurun itu juga yang membuat Kenia serasa lebih dekat dengan dunia sepak bola. Bahkan secara blak-blakan ia diam-diam mengaku sudah lama ngefans dengan klub asal Jakarta, Persija.

Ya, kultur sepak bola Indonesia yang masih identik dengan fanatisme kebablasan tidak membuat Kenia antipati. Bahkan wanita yang kini aktif sebagai Direktur Ihza and Ihza Law Firm tersebut tak ragu memberikan suara lantangnya untuk hak-hak suporter.

Kenia juga menegaskan sudah saatnya mematahkan anggapan suporter sepak bola Indonesia adalah warga kelas dua. Di mata hukum, ia meyakini semua pihak punya hak untuk bicara. Ajaran sang ayah memang benar-benar dipegang teguh oleh jebolan Universitas Indonesia tersebut.

"Pendampingan hukum sangat penting agar hak-hak seseorang terlindungi. Bisa saja terjadi tindak kekerasan akibat pertandingan sepak bola. Baik pelaku maupun korban sama-sama perlu bantuan hukum agar hukum dapat ditegakkan dengan adil dan penegakan hukum dilakukan secara profesional dan proporsional," tegas Kenia.

Dilahirkan di Jakarta memang membuat Kenia paham betul arti Persija untuk masyarakat Ibu Kota. Ia sendiri berharap Macan Kemayoran bisa jadi wadah terbaik generasi muda Betawi meneruskan mimpi-mimpinya, tidak hanya menjadi suporter tapi juga pelaku di atas rumput hijau.

"Sudah bukan cerita baru memang kalau Persija kekurangan pemain asli Betawi seperti saat era Sofyan Hadi misalnya. Tentu kita tidak bisa mengesampingkan putra daerah, pentingnya bibit pembinaan dari usia muda jadi harga mati untuk sepak bola Jakarta," tegas Kenia.

"Siapa yang tidak bangga anak daerah bisa membela tim tanah kelahirannya sampai puncak internasional. Semangatnya pasti lebih berlipat," sambung Kenia.

Kenia juga sangat setuju bila federasi sepakbola Indonesia juga serius akan kompetisi usia dini.

“Saya melihat ada beberapa kompetisi usia dini di Jabotabek kemasan sangat bagus, salah satunya Indonesia Junior League, saya melihat beberapa kali kesana , keren dan tertata rapih, semoga kompetisi usia dini seperti IJL ada diseluruh Indonesia” kata Kenia.*

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Komentar