Polisi Konsentrasi Kawal Piala Dunia, Ancaman Kriminalitas Meningkat di Rusia

Polisi Konsentrasi Kawal Piala Dunia, Ancaman Kriminalitas Meningkat di Rusia
Credit : Petugas keamanan mengamankan Piala Dunia 2018/Foto: FIFA
profil foto

PIALA Dunia 2018 tinggal hitungan hari. Mulai Kamis (14/6/2018) malam WIB, pesta sepak bola empat tahunan itu bakal dimulai dengan laga pembuka antara tuan rumah Rusia lawan Arab Saudi di Stadion Luzhniki, Moskow. Sekitar 10 ribu petugas kepolisian kabarnya dikerahkan untuk memastikan upacara dan laga pembukaan berjalan lancar.

Piala Dunia 2018 memang telah menyita konsentrasi yang begitu besar dari pihak Kepolisian Rusia. Ribuan polisi dari seluruh penjuru Rusia dialihtugaskan membantu menjaga keamanan di 11 kota yang menggelar 64 pertandingan hingga final 15 Juli 2018 nanti.

Konon, ada sejumlah kota yang jumlah polisinya berkurang hingga 25 persen karena ditarik ke pusat untuk Piala Dunia. Akibatnya, banyak kota yang kini kurang mendapat perhatian dari segi keamanan dan terancam mengalami peningkatan aksi kriminalitas.

Seperti dilaporkan kantor berita Reuters, banyak polisi lokal di Rusia kini harus bekerja lembur hingga belasan jam. Pasalnya, sebagian rekan kerja mereka ditarik ke pusat untuk membantu mengamankan Piala Dunia 2018.

“Akibatnya, frekuensi kami berpatroli jadi berkurang dan respons terhadap pengaduan masyarakat jadi menurun,” kata Vladimir Vorontsov dari Persatuan Polisi Antar-Region Rusia yang memiliki 17 ribu anggota di seluruh negeri itu. “Ini jelas situasi yang berbahaya dan bisa membawa konsekuensi serius.”

“Sekarang mudah mendapatkan situasi di mana tak ada kehadiran polisi yang cukup untuk menjaga keamanan kota,” kata Vorontsov lagi. “Satu-satunya pihak yang mendapat keuntungan dari situasi ini, tiada lain adalah para penjahat.”

Secara keseluruhan, Rusia memiliki 900 ribu petugas kepolisian yang tersebar di 20 kota besar dan ribuan kota menengah maupun kecil di sekujur negeri itu. Tak ada data pasti, berapa banyak di antara mereka yang dikonsentrasikan untuk mengamankan Piala Dunia 2018.

Pasalnya, level kewaspadaan Rusia terhadap pengamanan Piala Dunia kali ini memang sangat tinggi. Bahkan cenderung berlebih sehingga merepotkan warga kota yang kebetulan mendapat kesempatan jadi tuan rumah.

Seperti yang dirasakan Elena Mormol, seorang warga kota Yekaterinburg. Ia mengaku kehidupannya menjadi sangat repot beberapa bulan terakhir ini karena akses jalan utama dari apartemennya kini ditutup pagar besi setinggi tiga meter yang dibangun Polisi.

Tidak hanya jalan utama yang ditutup. Bahkan Polisi juga menutup kawasan parkir dan area bermain di sekitar apartemen Elena. Polisi menetapkan area itu sebagai kawasan yang harus diwaspadai karena berdekatan dengan Central Stadium yang kebagian menggelar empat pertandingan di fase grup.

Polisi telah memasang puluhan CCTV untuk memonitor kawasan tersebut secara ketat. Dan mereka memastikan pagar besi itu akan terus terpasang hingga Agustus meski Piala Dunia akan berakhir pada 15 Juli 2018.

“Sekarang kami merasa seperti hidup di kebun binatang. Ada pagar besi tinggi di sekeliling kami,” kata Elena dengan nada getir. “Bahkan pintuk masuk apartemen kami kini diawasi Polisi sepanjang 24 jam penuh.”

Apa boleh buat, begitulah risiko menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018. Suka-tak suka, Rusia harus bisa memenuhi komitmen kepada FIFA untuk memastikan pesta sepak bola sejagat itu berjalan aman, lancar, dan bebas ancaman teror.

Sejauh ini, FIFA tampaknya cukup puas dengan situasi dan kondisi keamanan di “Negeri Beruang Merah”. Seorang pejabat FIFA bahkan mengaku terkesan oleh rencana dan konsep pengamanan yang sudah disusun Pemerintah Rusia bersama panitia pelaksana lokal.

Alexei Lavrishchev, Kepala Pusat Operasi Pengawasan dan Pengamanan Piala Dunia 2018, sekaligus membantah bahwa pihak kepolisian Rusia menerapkan pengamanan berlebihan. Ia menyebut jumlah petugas yang disiagakan untuk mengamankan 11 kota tuan rumah secukupnya saja.

Boleh jadi, Lavrishchev menutup-nutupi fakta sebenarnya dan sekadar menjalankan tugasnya untuk “meluruskan” pemberitaan. Satu hal yang pasti, bukan FIFA melainkan Rusia sendiri yang mau Piala Dunia 2018 digelar di negeri itu. Tinggal rakyat Rusia yang menanggung risko dan konsekuensinya. *

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Komentar