Penjelasan Tim Dokter RSUD Lamongan Atas Meninggalnya Kiper Persela

Oleh Bayu Mahendra - 15 Oct 2017 20:17:26
Credit : Choirul Huda berpulang - Foto/Istimewa

LAMONGAN - Penjelasan lengkap disampaikan dr. Yudistiro Andri Nugroho, Sp.An-KIC sebagai Kepala Unit IGD RSUD dr Soegiri, Lamongan, terkait meninggalnya Choirul Huda, kiper Persela Lamongan. Melalui penjelasan ini diharapkan publik bisa mengerti seperti apa kondisi sebenarnya yang menimpa kiper legenda hidup Persela itu, hingg menyebabkan meninggal dunia.

Penjelasan dari pihak RSUD dr Soegiri ini seperti didapat dari Ronny Valega, media officer Semen Padang FC. Berikut penjelasan dari dr Yudistiro Andri Nugroho:

"Choirul Huda mengalami trauma benturan dengan sesama pemain, sehingga terjadi apa yang disebut berhenti napas dan berhenti jantung. Oleh teman-teman medis di stadion sudah dilakukan penanganan pembebasan jalan napas dengan napas bantuan. Setelah itu dirujuk ke UGD RSUD dr Soegiri. Di ambulans juga ditangani secara medis untuk bantuan napas maupun untuk penanganan henti jantung.

Sesampainya di UGD segera ditangani. Kami lakukan pemasangan alat bantu napas yang bersifat permanen. Kami lakukan inkubasi dengan memasang alat semacam pipa napas. Itu yang menjamin oksigen bisa 100 persen masuk ke paru-paru. Dengan itu kami berharap bisa melakukan pompa otak dan jantung. Sempat ada respons dari Choirul Huda dengan adanya gambaran kulit memerah, tetapi kondisnya tetap terus menurun.

Pompa jantung dan otak dilakukan selama 1 jam, tetapi tidak ada respons maksimal. Tidak ada refleks tanda kehidupan normal. Kemudian kami menyatakan meninggal sekitar pukul 16.45 WIB. Kami sudah mati-matian mengembalikan fungsi vital tubuh Choirul Huda.

Sesuai analisis awal benturan ada di dada dan rahang bawah. Ada kemungkinan trauma dada, trauma kepala, dan trauma leher. Di dalam tulang leher itu ada sumsum tulang yang menghubungkan batang otak. Di batang otak itu ada pusat semua organ vital, pusat denyut jantung, dan napas. Mungkin itu yang menyebabkan Choirul Huda mengalami henti jantung dan henti napas.

Demikian analisis awal dari kami, karena tim dokter tidak sempat melakukan scanning, oleh karena kondisinya tidak layak transport dengan kondisi kritis seperti itu. Kami tidak bisa mengkondisikan untuk dibawa ke radiologi. Jadi kami lebih menangani kondisi awal pertolongan darurat."*



Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?


Bagikan



© eyesoccer.id 2016 | Tentang Kami