Pahlawan dari Kota Milan yang Membawa Italia Juara Dunia

Pahlawan dari Kota Milan yang Membawa Italia Juara Dunia
Credit :
profil foto

SERIAL NOMOR 5 – Giuseppe Meazza yang akrab dipanggil Peppino ini lahir di kota Porta Vittoria, Milan (Italia) pada 23 Agustus 1910. Sang ayah tewas dalam Perang Dunia I saat Meazza berusia 7 tahun.

Peppino kemudian tinggal bersama ibunya sambil membantu jualan buah di pasar. Sejak kecil, Meazza menyukai sepakbola. Sang ibu sempat menyembunyikan sepatunya, tapi Meazza tak kehilangan akal: dia main bola tanpa alas kaki.

Saat berusia 6 tahun, Meazza sudah ikut sebuah klub sepak bola jalanan Maestri Campionesi. Sang ibu sudah mengizinkan Meazza meneruskan bakatnya di sepakbola dan Meazza memutuskan bergabung dengan klub Gloria F.C. Ada seorang penggemar klub tersebut memberinya sepasang sepatu sehingga Meazza makin rajin berlatih.

Meazza memulai karier sebagai strike. Tapi karena lincah dan cepat membuatnya diminta jadi gelandang serang sekaligus striker. Di usia 13 tahun, Meazza sangat menyukai klub AC Milan, tapi sayangnya dia ditolak masuk di klub tersebut karena badannya terlalu kurus. Beruntung, Meazza diterima dengan tangan terbuka oleh Inter Milan yang dulunya bernama Ambrosiana.

Di usia 17 tahun, Meazza sudah bermain di tim senior Inter dan permainan debutnya sangat mengesankan, yaitu mencetak dua gol ke gawang Milanese Unione Sportiva, hingga akhirnya menang 6-2. Meazza berhasil membawa Inter juara Liga Seri A 1929/30, mengungguli Genoa dengan selisih dua poin. Selain membawa Inter juara Seri A, Meazza juga meraih gelar topscorer Seri A dengan 31 gol.

Meazza memulai debutnya di timnas Italia pada 9 Februari 1930 saat Italia melawan Swiss dan berhasil menang 4-2. Meazza pun menyumbang dua gol ketika Italia mengalahkan Swiss dan saat itu usia Meazza masih 19 tahun. Meazza akhirnya menjadi pemain inti dan berhasil membawa Italia juara di Central European International Cup di tahun 1927-30 dan 1933-35 yang diikuti oleh beberapa negara seperti Austria, Cekoslowakia, Polandia, Rumania, Swiss, dan Yugoslavia.

Pada 1934, FIFA menunjuk Italia menjadi tuan rumah Piala Dunia yang digelar kedua kalinya dan itu merupakan keinginan dari pemimpin Italia saat itu, Benito Mussolini. Tekanan Mussolini agar Italia juara, membuat para pemain giat berlatih.

Negara-negara Britania Raya seperti Inggris, Skotlandia, Irlandia, dan Wales menolak berpartisipasi di Piala Dunia dan mereka mempunyai turnamen sendiri. Sedangkan sang juara bertahan Uruguay juga menolak tampil di Piala Dunia 1934 karena ingin membalas sikap Italia dan beberapa negara di benua Eropa yang menolak tampil di Piala Dunia 1930.

Piala Dunia 1934 ternyata memakai sistem knock-out. Di pertandingan pertama, Italia bertemu Amerika Serikat dan menang telak 7-1. Meazza menyumbangkan gol di menit 89. Selanjutnya di perempat final Italia harus bertemu Spanyol yang mengalahkan Brasil 3-1. Italia sangat kesulitan menghadapi Spanyol yang memiliki salah satu kiper terbaik di dunia saat itu, yaitu Ricardo Zamora dari Real Madrid.

Meazza sampai hampir pingsan ketika duel udara melawan pemain Spanyol bernama Jacinto Quincoces. Italia sempat ketinggalan 0-1 lewat gol Luis Regueiro di menit ke-30, namun beruntung Giovanni Ferrari berhasil menyelamatkan Italia dari kekalahan dengan golnya di menit ke-44. Pertandingan akhirnya diulang besoknya. Para pemain Italia sempat ketakutan, karena kalau sampai tidak juara maka Mussolini akan “menghabisi” mereka semua.

Untunglah Zamora absen melawan Italia di pertandingan kedua karena bertabrakan dengan Angelo Schiavio. Meazza yang menjadi aktor di balik semua itu yang ingin membuat Zamora cedera. Juan José Nogués akhirnya ditunjuk sebagai kiper Spanyol di pertandingan kedua dan Italia berhasil menang 1-0 lewat gol Meazza di menit ke-11. Lagi-lagi Meazza dianggap melakukan kecurangan  dengan menghalang-halangi Nogués di depan gawang hingga akhirnya kebobolan.

Di semifinal, Italia bertemu musuh bebuyutannya yaitu Austria yang sebelumnya mengalahkan mereka dengan skor 4-2, sebelum Piala Dunia dimulai. Austria saat itu dijuluki “Wonder Team” yang diisi dua pemain terbaik dunia, yaitu Matthias Sindelar dan Josef Bican.

Meazza menggiring bola namun berhasil dipatahkan oleh kiper Austria, Peter Platzer. Tak dinyana, bola mengenai tiang gawang dan mengarah ke Enrique Guaita hingga akhirnya langsung mencetak gol dengan mudah.

Italia menang 1-0 melawan Austria dan ternyata kemenangan tersebut memakan korban dengan cederanya Meazza. Sang pelatih Italia saat itu, Vittorio Pozzo, tidak mau mengambil risiko dan tetap memainkan Meazza di final melawan Cekoslowakia di Roma. Cekoslowakia yang mempunyai kiper František Plánicka sempat ungggul dulu 0-1 lewat Antonín Puc di menit ke-71.

Namun Raimundo Orsi berhasil menyamakan kedudukan di menit ke-81 lewat umpan Enrique Guaita dan pertandingan berakhir 1-1 sehingga diadakan perpanjangan waktu. Para pemain Cekoslowakia ternyata ceroboh dengan menyepelekan Meazza yang terlihat pincang karena cedera.

Meazza kembali menjadi aktor kemenangan Italia dengan memberi umpan bagus kepada Guaita. Lalu giliran Guaita memberi umpan kepada Schiavio yang akhirnya berhasil mencetak gol ke gawang František Plánicka di menit ke-95. Italia akhirnya menjadi juara di Piala Dunia 1934 dan Meazza meraih Golden Ball yaitu penghargaan kepada pemain terbaik.

Empat tahun kemudian, Piala Dunia diadakan di Prancis dan Meazza ditunjuk sebagai kapten tim oleh Pozzo. Meazza pun dikirimi telegram oleh Mussolini yg berkata “Menang atau Mati!”. Namun beruntung Italia kembali berhasil menjadi juara di Piala Dunia 1938 dan Meazza dipaksa main di semua pertandingan.

Tahun 1940, akhirnya Meazza memutuskan keluar dari Inter yang sudah membesarkan namanya sampai 13 tahun dan sukses juara Serie A sebanyak tiga kali. Meazza memilih gabung bersama AC Milan selama dua tahun saja dan menjadi runner-up Copa Italia 1941/42 –dikalahkan Juventus di final.

Permainan Meazza mulai menurun dan berat badannya mulai bertambah. Lalu dia memutuskan pindah ke Juventus, 1942-1943. Tahun 1944, Meazza sempat pindah ke Varese dan musim berikutnya pindah lagi ke Atalanta. Ia memilih balik ke Inter pada 1946 sampai akhirnya pensiun setahun kemudian.

Meazza meneruskan kariernya sebagai pelatih dan melatih beberapa klub, seperti Atalanta, Inter, Besiktas, dan Pro Patria, lalu sempat melatih timnas Italia pada 1952-1953. Pada 21 Agustus 1979, ia meninggal dunia terkena kanker paru-paru dan namanya diabadikan menjadi nama stadion sepak bola di Milan yang dikenal juga dengan nama San Siro. *

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Komentar