Mengenal Zanetti, Bintang Dunia yang Tertarik Pembinaan Usia Muda di Indonesia

Mengenal Zanetti, Bintang Dunia yang Tertarik Pembinaan Usia Muda di Indonesia
Credit : Infografis/Foto: Charlie Charles Lubis
profil foto
  • Ridhoni -
  • 15 Feb 2018 19:42:52 -
  • 146 views

WAKIL Presiden Inter Milan, Javier Zanetti baru-baru ini hadir ditengah-tengah pecinta sepak bola Indonesia. Bukan untuk bermain ataupun melatih namun, dirinya datang untuk mempersiapkan sebuah proyek besar yaitu Inter Academy Indonesia.

Inter Academy sendiri melakukan kerja sama dengan Persib Bandung untuk menciptakan sinergi yang baik guna pembinaan usia muda di Indonesia. Namun, mungkin banyak para pecinta sepak bola usia muda saat ini yang belum mengenal siapa Zanetti itu sebenarnya.

Terlahir dengan nama Javier Adelmar Zanetti di Buenos Aires pada 10 Agustus 1973. Zanetti kecil di besarkan di daerah pelabuhan distrik Dock Sud, bersama sang ayah dirinya bekerja keras dan berkomitmen untuk mengejar pendidikannya.

Padahal waktu itu ayahnya hanyalah seorang kuli bangunan. Karena dalam kondisi ekonomi yang dinilai kurang. Dirinya membantu sang ayah dengan menjadi pengirim susu dan bekerja di toko kelontong untuk menyambung hidup.

Di luar itu, passionnya yang sangat luar biasa pada sepak bola telah membuatnya menjadi seorang pesepakbola handal dan kuat. Zanetti sendiri mendapat julukan “Traktor” karena daya jelajahnya yang luas yang dipadukan dengan kekuatan fisik dan daya tahan yang besar.

Dirinya pun bisa menyerang dan bertahan dengan sama baiknya, sehingga bisa kembali ke posisinya dengan  sangat cepat. Berposisi asli sebagai seorang gelandang atau bek kanan, dirinya dianggap sebagai kartu joker bagi para pelatih Inter saat itu.

Perjalanan Karir dan Prestasi yang Pernah Diraih

Di awal karirnya Zanetti pernah ditolak oleh klub junior Independiente, lantas hal tersebut dirinya pun memilih bergabung dengan Talleres (tim divisi dua Argentina saat itu). Setelah penampilannya yang mengesankan dirinya pindah ke divisi utama bersama Banfield.

Bersama Banfield dirinya semakin menunjukkan kemampuan terbaiknya, itu terbukti saat dirinya langsung dipanggil untuk memperkuat timnas Argentina kala itu. Berbekal hal itu, klub besar Argentina seperti Boca Juniors dan River Plate dikabarkan tertarik untuk merekrutnya.

Namun, sayang Zanetti lebih memilih tinggal di Banfield selama semusim lagi. Lalu pada tahun 1995, ia pindah ke Italia untuk bergabung dengan Inter Milan yang kala itu baru saja dimiliki oleh Massimo Moratti.

Bahkan sejak saat itu dirinya selalu menghuni sebelas pemain awal di Inter, ketika “La Beneamata” dilatih oleh Roy Hodgson. Selama tinggal di Milan, dirinya telah memenangkan 16 Piala dengan 15 diantaranya berada di bawah komandonya sebagai seorang kapten.

Seperti Piala UEFA pada tahun 1998, Coppa Italia 2005,2006 dan 2010, Piala Super Italia 2005, 2006, 2008 dan 2010, Scudetto 2005-2006,2006-2007, 2007-2008, 2008-2009 dan 2009-2010. Liga Champions dan Piala Dunia Antarklub 2010.

Lalu pada tahun 2010 itulah, dirinya berhasil menjadi kapten klub Italia pertama yang berhasil meraih Treble dengan menjuarai Scudetto, Coppa Italia dan Liga Champions. Bahkan dengan kualitas yang dimilikinya saat masih aktif bermain.

Dirinya selalu mendapat respek dari sesama pemain di lapangan. Dan begitu disegani dan dihormati oleh para fans sepak bola di seluruh dunia.

Bahkan dirinya melewati legenda Inter, Giuseppe Bergomi sebagai penampil terbanyak di Serie A bersama “Nerazzurri.” Dan telah membuat seribu penampilan selama dirinya menjadi seorang pesepakbola profesional.

Sedangkan karirnya bersama timnas juga tidak bisa dianggap remeh. Dirinya telah membela timnas Argentina sebanyak 145 kali penampilan dan telah mencetak 5 gol dan menjadi pemain yang paling banyak berkostum Argentina.

Walaupun sempat tidak dipanggil untuk skuat Argentina ke Piala Dunia 2006. Yang kala itu dilatih oleh Jose Pekerman dan menimbulkan kontroversi bagi para pendukung dan media-media Argentina saat itu.

Zanetti kemudian dipanggil kembali saat persahabatan melawan Perancis pada tanggal 7 Februari 2007. Dan membantu Javier Saviola mencetak satu-satunya gol di pertandingan tersebut.

Ia juga merupakan satu dari sedikit pemain di dunia yang telah bermain lebih dari 1000 pertandingan resmi seumur hidupnya. Dan terpilih oleh Pele sebagai 100 pemain terbaik di dunia yang pernah ada. *

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Komentar