Jangan Berharap Persib Juara Liga 1… Itu Berat!

Jangan Berharap Persib Juara Liga 1… Itu Berat!
Credit : Sebagian pemain Persib pada Piala Presiden 2018/Foto: Persib
profil foto

PIALA Presiden 2018 menjadi tamparan memalukan bagi klub raksasa Liga 1, Persib Bandung. Bermain sebagai tuan rumah dan menjadi salah satu favorit, Persib malah tersingkir di fase grup dan kalah bersaing dengan pendatang baru Liga 1, PSMS Medan.

Jagat dunia maya pun riuh-rendah mengomentari kegagalan itu. Sekaligus membuat bulan madu bagi pelatih baru Roberto Carlos Mario Gomez terasa begitu singkat.

Namun kegagalan di ajang pramusim ini sesungguhnya baik untuk Persib. Kalau mengandalkan materi pemain seperti di Piala Presiden 2018 lalu Persib ditargetkan menjuarai Liga 1, tolong jangan berharap… Itu berat!

Kegagalan di Piala Presiden membuka mata semua pihak di Persib tentang kurangnya kedalaman skuat, lemahnya pemain di sejumlah posisi, dan perlunya menambah pemain pelapis yang berkualitas. Jujur saja, materi skuat “Tim Maung Bandung” saat ini di bawah Sriwijaya FC, PSM Makassar, Bali United, bahkan Persija Jakarta, rival abadinya.

Melalui tiga penampilan di Piala Presiden, terlihat jelas Persib tidak punya striker tajam di lini depan. Mereka juga tak punya pemain sayap yang enerjik selain Febri Haryadi. Sementara itu, Atep mulai kedodoran dan Billy Keraf masih jauh untuk diharapkan sebagai pemain andalan.

Namun kelemahan yang paling mendasar sesungguhnya di lapangan tengah. Persib tak punya seorang gelandang jangkar yang kokoh memenangkan perebutan bola di area kunci itu. Seorang pemain yang mendominasi dengan postur kokoh dan skill-nya yang mumpuni.

Ini bukan soal kemampuan membagi bola semata. Juga bukan soal mengatur tempo permainan kapan harus cepat mengalirkan bola, kapan harus menahan dulu. Lebih dari itu, ini soal kehadiran.

Seorang pemain yang selalu ada saat rekan-rekannya menguasai bola tapi bingung ke mana harus mengumpan. Seorang gelandang yang selalu siap menjemput bola dari kaki kiper atau pemain belakang. Seorang jenderal lapangan tengah yang mengatur posisi rekan-rekannya dan mendikte jalannya pertandingan.

Persib tak punya sosok seperti itu sehingga permainannya terkesan kurang berirama, serangan-serangannya terasa kurang terencana, dan mudah kehilangan bola. Beda dengan Bhayangkara FC yang punya Paulo Sergio atau PSM yang punya Marc Anthony Klok.

Jangan bilang di situ Persib sudah punya Michael Essien. Sudahlah… .

Kegagalan di Piala Presiden seharusnya membuka mata semua jajaran manajemen, staf pelatih, pemain, dan bobotoh Persib tentang berbagai kekurangan itu. Jauh lebih baik introspeksi dan berbenah ketimbang ribut mengapa Ahmad Jufriyanto dilepas ke Kuala Lumpur.

Yang sudah pergi, biarlah pergi. Persib harus berani menatap ke depan menyiapkan tim yang lebih baik untuk Liga 1 nanti. Karena pekerjaan rumah Mario Gomez memang sangat banyak jika titik tolaknya adalah performa mereka di Piala Presiden 2018.

Segera lakukan pembenahan itu dengan perekrutan pemain yang tepat untuk posisi-posisi yang masih lemah. Siapkan rangkaian uji coba yang sesuai dengan program dan kebutuhan tim.

Berikan waktu kepada Mario Gomez untuk mengimplementasikan konsep dan skema permainan yang dia inginkan. Mungkin permainan Persib akan terasa kurang atraktif dan cenderung bertumpu pada serangan balik. Tapi itulah konsekuensi memilih dia. Harus diterima.

Kita lihat saja, apakah Persib mau melakukan semua pembenahan itu demi kebaikan tim. Jika tidak, maka sebaiknya jangan terlalu berharap menjuarai Liga 1 musim 2018… Itu berat! *

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Komentar