Dijadikan “Kambing Hitam”, Ayah Ozil Minta Anaknya Pensiun dari Timnas Jerman

Dijadikan “Kambing Hitam”, Ayah Ozil Minta Anaknya Pensiun dari Timnas Jerman
Credit : Mesut Ozil, usai kegagalan Jerman/Foto: DFB
profil foto

BERLIN – Ayah  Mesut Ozil meminta sang anak agar tidak lagi membela timnas Jerman. Sang ayah tak terima Ozil dijadikan “kambing hitam” atas kegagalan skuat “Die Mannschaft” yang tersingkir di fase grup Piala Dunia 2018.

Ozil, 29 tahun, memang menerima kritik pedas di Jerman selepas juara dunia itu tampil buruk di Rusia. Tekanan semakin memuncak dan gelandang Arsenal itu semakin dilanda kontroversi terkait gambarnya bersama Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Foto tersebut menimbulkan polemik soal kesetiaannya terhadap Jerman.

Manajer timnas Jerman, Oliver Bierhoff, semakin memanaskan kontroversi karena komentarnya soal pertemuan Ozil bersama Erdogan cenderung negatif. Ia ikut meminta Ozil menjelaskan pertemuan itu secara terbuka.

Hal itu semakin membuat kecewa keluarga Ozil. “Ini tidak masuk akal. Menurut pendapat saya, Bierhoff hanya bertujuan menyelamatkan diri sendiri,” kata sang ayah, Mustafa Ozil.

Bierhoff kemudian memohon maaf dan mengaku salah. Namun hal itu tak meredakan kekecewaan keluarga Ozil.

Mustafa menegaskan, anaknya setuju untuk berfoto bersama Erdogan hanya karena memenuhi permintaan dan tidak bermaksud mengaitkannya dengan politik. Dia juga setuju dengan tindakan Ozil yang tidak memberi komentar apapun berhubung situasi saat ini.

“Dia tidak mau menjelaskan apapun. Dia tidak lagi mau setiap saat harus membela diri,” Mustafa mengungkapkan. “Dia bermain untuk Jerman selama sembilan tahun, termasuk menjadi juara dunia. Banyak yang dia sumbangkan untuk negara.”

“Jika menang, kami menang bersama. Tapi saat kami kalah, apa karena Ozil?” Mustafa mempertanyakan. “Dia sudah tidak peduli lagi apabila dijadikan kambing hitam. Saya paham jika dia merasa terhina.”

“Dia perlu membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Tapi jika saya berada di posisi dia, saya akan katakana, ‘Terima kasih banyak, tapi cukup sampai di sini!’,” ia menegaskan. “Kekecewaannya semakin menebal. Jika saya di posisi dia, saya akan berhenti saja.” *

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Komentar