Caring dalam Mengupayakan Keselamatan Pasien Era Pandemi COVID-19

Caring dalam Mengupayakan Keselamatan Pasien Era Pandemi COVID-19
Credit : Eva Yuliana
profil foto
  • ocim -
  • 27 Jun 2020 14:11:00 -
  • 1373 views

Sekali sempat kau mengeluh kuatkah bertahan

satu persatu jalinan kawan beranjak menjauh

kudatang sahabat bagi jiwa saat batin merintih

usah kau lara sendiri masih ada asa tersisa ...

letakkanlah tanganmu di atas bahuku

biar terbagi beban itu

dan tegar dirimu

di depan sana cahya kecil ~tuk memandu

tak hilang arah kita berjalan...

menghadapinya ..

Usah kausimpan  lara sendiri….

 

BELUM usai kesedihan karena banjir yang melanda diawal tahun tepatnya 1 Januari 2020, yang menimbulkan banyak kerugian baik korban jiwa, maupun harta benda. Kini kita kembali digemparkan dengan dengan pandemi covid 19, yang merebak dengan cepat keseluruh dunia tanpa pernah ada yang menduga, coronavirus sanggup melumpuhkan dunia bahkan kehidupan manusia secara serentak.

Pada awal tahun 2020, COVID-19 menjadi masalah kesehatan dunia. Kasus ini diawali dengan informasi dari Badan Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO), pada tanggal 31 Desember 2019, menyebutkan adanya kasus kluster pneumonia dengan etiologi yang tidak jelas di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China.

Kasus ini terus berkembang hingga adanya laporan kematian dan terjadi importasi di luar China. Pada tanggal 30 Januari 2020, WHO menetapkan COVID-19 sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC)/ Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Yang Meresahkan Dunia (KKMMD).

Pada tanggal 12 Februari 2020, WHO resmi menetapkan penyakit novel coronavirus pada manusia ini dengan sebutan Coronavirus Disease (COVID-19). Pada tanggal 2 Maret 2020 Indonesia telah melaporkan 2 kasus terkonfirmasi COVID-19. Pada tanggal 11 Maret 2020, WHO sudah menetapkan COVID-19 sebagai pandemi.

Demikian halnya di Indonesia pun kasus semakin merebak dengan cepat dari awal maret, sehingga Indonesia menetapkan Pandemi virus cororna sebagai bencana nasional oleh presiden Jokowi, pada tanggal 13 April 2020, melalui penerbitan Keputusan Presiden Nomor 12 tahun 2020.

Seiring meningkatnya kasus terkonfirmasi positif, maupun OTG (Orang Tanpa Gejala), Orang Dalam Observasi (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan(PDP), yang terjadi sangat cepat sehingga berbagai RS baik vertikal maupun swasta, belum siap secara standar, namun tetap harus menerima pasien dengan infeksi covid 19.

Hal ini menjadi sangat miris, karena nyawa petugas kesehatan menjadi taruhannya, terbukti terlaporkan kematian beberapa dokter spesialis, dokter umum dan rekan-rekan perawat yang berada digaris depan, karena belum siap dan kurangnya APD, belum lagi karena ketidakjujuran pasien kepada petugas kesehatan, meskipun kematian akibat infeksius corona virus terjadi pada individu yang memiliki komorbid, namun tak terelakkan meninggalkan duka yang sangat dalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

Tidak jarang juga kita mendengar berita tragis lainnya dimana perawat diusir dari tempat kosnya oleh pemilik kos dalam kondisi malam dan mereka harus mengungsi mencari tempat peneduhan dalam kesedihan dan kepiluhan hati di malamnya dingin….seandainya profesi ini bukan panggilan jiwa, mungkin perawat akan marah dan berkata “emang saya mau jadi perawat, sudah merawat malah di kucilkan dengan tidak layak”….belum lagi berita yang marak terjadi mayat perawat atau petugas kesehatan ditolak beberapa TPU, sungguh sangat memperihatinkan.

Namun dalam refleksi akan panggilan profesi perawat sudah menjadi panggilan jiwa, apapun risiko yang dihadapi berat dan ringan, sedih dan kecewa… perawat akan tetap merawat dengan hati dan caring, tanpa mengeluh dan putus asa dengan mengutamakan mutu asuhan dan keselamatan pasien.

Layaklah perawat mendapat penghargaan sebagai pahlawan kehidupan, disaat semua orang #dirumah saja bahkan WFH, namun perawat tetap maju tanpa pantang mundur di garda depan merawat pasien dengan covid 19, dengan segala risiko terpapar bahkan nyawa taruhannya, hal ini tak jadi soal karena profesi perawat sungguh panggilan jiwa, panggilan ‘tuk berkarya pada kemanuasiaan.

Dalam situasi yang penuh keprihatinan dengan APD yang terbatas, dan fasilitas yang tidak ideal sesuai standard penanganan kasus infeksius, sungguh hal ini mengancam keselamatan perawat sebagai garda depan penanganan kasus covid 19, di beberapa RS di setting secara dadakan menjadi ruang Isolasi, terkadang kurang memenuhi standar dengan tekanan negatif, belum lagi jumlah pasien yang terus meningkat dan sarana maupun ruangan yang terbatas, SDM terbatas khususnya keperawatan, kelelahan dan bahkan stress, namun pasien tetap harus ditangani dan tidak bisa diabaikan, dalam situasi ini pun risiko terpapar sangat tinggi bagi perawat. Belum lagi saat merawat pasien covid 19 atau PDP perawat harus menggunakan APD lengkap, sesuai kebijakan universal precaution, regulasi dan SPO yang ketat demi keselamatan pasien dan petugas, yang sungguh membuatnya tidak nyaman dan risiko terjadi dehidrasi atau fatique karena kelelahan, belum lagi faktor psikologis stress yang dihadapi oleh perawat, hal ini juga berisiko terhadap penurunan daya tahan tubuhnya dan memiliki risiko lebih besar terpapar virus corona.

Pada saat perawat menggunakan APD lengkap saat merawat pasien dengan covid 19, hal ini membuat perawat sulit berkomunikasi dan mendengar keluhan pasien dengan leluasa, menyentuh lembut sebagai penguatan tanpa APD adalah tidak mungkin dilakukan saat ini, belum lagi waktu bicara dengan pasien dengan keterbatasan jarak dan waktu, sedangkan disisi lain, kondisi pasien positif covid 19 ataupun PDP mengalami stress yang juga tinggi dan butuh dukungan dan perhatian, sehingga mempercepat proses penyembuhannya.

Pada situasi ini menjadi tandatangan dan dilemma bagi seorang perawat profesional, yang harus tetap menerapkan perilaku caring (perhatian secara penuh kepada pasien) dalam asuhan keperawatan. Jean Watson, dalam 10 karaktif caring teorinya mengajak perawat untuk melakukan lebih dari sekedar prosedur, tugas, dan teknik yang digunakan di lahan praktek, yang memaknai aspek hubungan pasein dengan perawat yang memberikan hasil terapeutik dalam proses caring transpersonal (Watson 2005;2012).

Perilaku caring menjadi sangat penting dalam mempengaruhi kualitas pelayanan dan kepuasan pasien terutama di rumah sakit, dimana kualitas pelayanan menjadi penentu citra institusi pelayanan yang nantinya akan dapat meningkatkan kepuasan pasien dan mutu pelayanan ( Potter – Perry).

Caring mengandung 3 hal yang tidak dapat dipisahkan yaitu perhatian, tanggung jawab, dan dilakukan dengan ikhlas (Sitorus). Pengalaman yang dilematis ini, tidak memupuskan semangat perawat untuk tetap menunjukkan perilaku caring meskipun dibatasi oleh APD lengkap, karena mutu asuhan yang mengutamakan keselamatan pasien menjadi prinsip asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien, hal ini karena keselamatan pasien menjadi hak setiap pasien.

Tak jarang kita lihat di berbagai media informasi dan Medsos beberapa perawat melakukan dengan kreatif dan inovasi untuk menghibur pasien dibalik kaca dengan nyanyi, tari, mendengarkan pasien melalui microphone dan bahkan curhat pasien dari handphone.

Meskipun dibatasi oleh barbagai kendala dan risiko keselamatan bagi perawat, tidak memudarkan prinsip asuhan yang mengacu pada Patient Centre Care (pelayanan berfokus pada pasien) dengan mengutamakan mutu dan keselamatan pasien.

Hal ini, terinspirasi oleh semangat ibu Florence Nightingale bukan hanya Bunda Perawatan Modern; dia juga adalah Ibu Desain Kesehatan dan Keselamatan Pasien, dengan prinsipnya memodifikasi lingkungan yang aman, bersih dan therapeutic untuk meningkatkan kenyamanan dan pemulihan pasien (Nightingale,1969).*

”Guru adalah Pelita Dalam Kegelapan…”

“Perawat adalah Teman Dalam Harapan…”

Eva Yuliana

Fakultas Ilmu Keperawatan

Univ. Indonesia

(Nursing Manager of Royal Progress Hospital)

 

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Komentar