Blunder Lagi Lawan Leicester, Liverpool Memang Butuh Van Dijk

Blunder Lagi Lawan Leicester, Liverpool Memang Butuh Van Dijk
Credit :
profil foto

LAGA lawan Leicester City, Sabtu (30/12/2017) malam, benar-benar menguras emosi Juergen Klopp. Tak heran saat laga tersebut usai dan berakhir dengan kemenangan 2-1, pelatih Liverpool itu begitu ekspresif meluapkan kegembiraannya.

Penyebabnya, apalagi kalau bukan, blunder lini belakang sehingga membuat Liverpool tertinggal 0-1 pada menit ketiga di Anfield. Gol bermula dari kesalahan Joel Matip dalam melepas umpan di area pertahanan yang kemudian dimanfaatkan Ryad Mahrez dan Jamie Vardy menyempurnakannya jadi gol. Untung Mohamed Salah kemudian membalas dengan dua golnya pada babak kedua.

Padahal, baru beberapa hari sebelumnya, Klopp memuji pertahanan “The Reds” setelah menang besar 5-0 atas Swansea. Menurut Klopp, dalam duel melawan Swansea, sistem pertahanan Liverpool mulai terlihat rapi. "Kami bertahan lebih baik, semakin kompak," kata Klopp, kala itu.

Dua fakta yang kontradiktif ini kiranya semakin menegaskan keabsahan pembelian Virgil Van Dijk dari Southampton. Meskipun, untuk itu, Liverpool harus merogeh kocek sangat dalam, bahkan menjadi rekor pembelian pemain belakang termahal sepanjang sejarah: 75 juta Pounds (setara Rp 1,2 triliun)!

Van Dijk dibutuhkan tak sekadar untuk menambal bocornya pertahanan Liverpool yang musim ini sudah bobol 24 kali dari 21 laga. Juga bukan semata untuk mengurangi blunder-blunder yang musim ini seolah jadi “penyakit kambuhan” pasukan Merseyside.

Van Dijk layak dijual dengan harga mahal lantaran ia merupakan pemain belakang yang langka. Ia pemain dengan kekuatan utama di kaki kanan, tapi ia sangat kuat bila ditempatkan di sisi kiri jantung pertahanan. Itu pos terlemah di lini belakang Liverpool yang selama ini biasa dijaga Dejan Lovren.

Posisi alaminya seorang bek tengah, namun ia memiliki naluri menyerang yang cukup baik. Bahkan ia juga bisa menjadi orang pertama yang mengalirkan bola saat tim membangun serangan (build up). Selain itu, ia baru 26 tahun, usia emas bagi pesepakbola profesional.

Namun, yang terpenting, memang atribut-atribut yang dimilikinya dalam urusan bertahan. Meski musim 2017/18 ini Southampton telah kebobolan 30 gol, namun aksi bertahan Van Dijk sangat baik dalam upaya menggagalkan serangan lawan.

Setidaknya, dalam proses lahirnya 30 gol itu, tak ada kesalahan langsung yang berasal dari blunder Van Dijk. Bandingkan, misalnya, dengan tiga bek tengah Liverpool yang semuanya punya andil langsung bagi rapuhnya pertahanan Liverpool.

Melalui catatan statistik yang dihimpun Squawka, setiap pertandingannya Van Dijk mampu melakukan 2,42 intersep, 1,08 blok, 6,72 sapuan, dan 4,2 kali menang dalam duel udara. Persentase tackle suksesnya mencapai 75 persen, sementara dalam duel bola atas persentase menangnya 74 persen.

Aksi bertahan Van Dijk itu unggul dalam semua aspek dibanding Matip, Lovren, maupun Ragnar Klavan. Bahkan catatan statistik aksi bertahan Van Dijk per pertandingan pun masih lebih baik ketimbang trio lini belakang Manchester City: Nicolas Otamendi, Vincent Kompani, serta John Stones.

Pada akhir Desember 2016, Ronald Koeman pernah menyatakan bahwa Van Dijk adalah pemain belakang dengan kemampuan individu paling komplet di Liga Primer. Ia menyebut Van Dijk memiliki kemampuan bertahan dan menyerang sama baiknya.

“Dia kuat, cepat, dan punya kontribusi penting bagi tim,” kata mantan pelatih Souhampton dan Everton itu. “Ketika tim membangun serangan dari belakang, ia memiliki operan pendek yang bagus. Dia juga bagus ketika mengirim umpan jauh.”

Menurut Koeman, Van Dijk sangat mungkin menjadi sosok yang menjanjikan bagi Liverpool. Ia bisa memberi ketenangan di lini belakang Liverpool yang kerap mudah panik sehingga akhirnya melahirkan kesalahan-kesalahan fatal yang tidak perlu.

Namun, tentu saja, itu semua sebatas prediksi. Kita baru bisa membuktikan apakah Van Dijk benar-benar bisa jadi solusi bagi lini pertahanan Liverpool saat ia mulai beraksi menghadapi Burnley pada pekan ke-22, Senin (1/1/2018) malam WIB. *

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Komentar